Ceritapenulis

Hiduplah dengan Senyuman……..

Keasyikan FB/ Memutuskan untuk bagi waktu

Oh lalaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………
Jadi ingat kasus ku beberapa waktu yang lalu saat aku minta obat gara-gara malez untuk buat postingan baru di BlogQ….

Tapi skarang malah ada kasus lagi…. Aku tetap smangat untuk online….tapi bukan untuk ngeBlog tapi untuk ngeFacebook……….Waduuuuuuuuuuuuuuh parah…parah

Makanya skarang aku dah memutuskan untuk membagi waktu sedemikian rupa agar smuanya dapat berjalan seiring sejalan…wkwkwkkkkkkkkkkkkk.

Dan hasil keputusannya adalah:
1. 50 % untuk dunia Nyata
2. 10 % untuk NgeBlog
3. 10% untuk FB
4. 10% untuk YM
5. 10% untuk Browsing
6. 10% untuk yang lain2 dhech…….///pusing..wkwkwkwkkk

Hahahahha Apa akan berhasil ya???

Liat nanti………….

Tapi dengan semangat juang 45 smuanya akan berhasil

SMANGAT…SMANGAT

Mei 4, 2009 Ditulis oleh ceritapenulis | curhatq | , , , , | & Komentar

Melewati Kesunyian

Dua waktu tlah terlewati

Kesunyian itu tetap saja ada

Tiga waktu tlah dilalui

Kesunyian itu tetap tak menghilang

Empat waktu tlah terlampaui

Kesunyian itu tetap menghinggapi

Lima waktu tlah bersamaku

Kesunyian itu tetap bertahan

Enam waktu tlah terlewati

Kesunyian itu perlahan lenyap

Tujuh waktu tlah dilewati

Kesunyian itu pergi

Tiga puluh waktu tlah terjalani

Kesunyian itu benar-benar menjauh

Satu waktu pertama yang kujalani

Aku meninggalkan kesunyian itu

April 10, 2009 Ditulis oleh ceritapenulis | PuisiQ | , , , , , | & Komentar

Sopir Taxi Itu

Hatiku benar-benar hancur, tapi mau apa lagi . aku hanya bisa meyesal dan menangisi apa yang terjadi sore ini, sore yang suram diantara rintikan hujan yang membasahi bumi ini.
Aku tidak tau mau kemana lagi, kacau……Indra dia tega sekali mengakhiri hubungan yang telah kami bina selama 3 tahun. Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Tapi untunglah ada taxi yang melintas di hadapanku dan sekejap aku melambaikan tangan agar si Sopir dapat melihatku.
“Jalan Pak…….” Kataku saat tlah berada di alam Taxi.
“Kemana Dik?” tanyanya.
“Jalan Dg.Tata Raya…….” Jawabku.
Tak pernah terlintas difikiranku bahwa akan berakhir seperti ini. Aku bahkan sudah berangan-angan untuk hidup dan bersama Indra dalam suatu hubungan yang lebih serius, pernikahan. Bahagia….selamanya. tapi itu hanya mimpi buktinya sore ini saat mengantar kepergian Indra untuk kembali ke Jakarta, dia mencampakkanku dengan sejuta kekecewaan yang tertinggal. Perkataan Indra bahkan sampai saat ini masih terngiang di telinga bahkan tatapan matanya yang menusuk.
“Din…….kamu masih ingat kapan pertama kali kita ketemu?” itu yang diucapkannya pertama kali saat kami menunggu keberangkatannya.
“Aku masih ingat Ndra. Di Bandara ini juga kan. Waktu itu kamu untuk pertama kalinya datang ke Makassar, dan kita bertabrakan dan sama-sama jatuh. Waktu itu aku baru saja menjemput sepupu yang baru aja datang dari Manado. Kamu ingat Ndra saat itu smua orang menertawakan kita. Malu banget. Tapi ada yang seru soalnya setelah itu kamu ngajak kenalan. Dan yang paling mengejutkan kamu langsung minta nomor HP ku dengan alasan masih baru di Makassar dan butu teman. Hahahahah…..Ndra….Ndra…..knapa kamu bisa senekat itu.” Tanyaku.
“Ga tau Din, tapi kamu jahat kamu ngasi nomor HP sepupu kamu yang baru datang dari Manado itu, kak Silvia…padahal kak Silvia saat itu dah punya suami dan 3 orang anak.” Jawabnya.
“Iya, sorry…tapi pada akhirnya ketauan juga karena kak Silvia jahat ngasi nomor Hp aku ke kamu.”
Kami terdiam sejenak.
“Din………”
“Iya…..” jawabku singkat.
“Kita putus aja………” kata Indra.
“”Apa…? Maksud kamu apa Ndra, kamu becanda? Mau ngerjain aku.” Kataku padanya.
“Tidak….tidak sama sekali. Aku bakal balik ke Jakarta dan tidak akan kembali lagi ke sini. Kontrak kerjaku di sini telah habis dan kerjaan yang baru telah menunggu di Jakarta. Dan seperti yang kamu ketahui smua keluarga dan kerabatku ada di Jakarta.
“Tapi Dina nggak mau putus. Dina terlalu sayang sama Indra. Kamu nggak siap pacaran jarak jauh kan Ndra? Itu alasan kamu?” tanyaku padanya sementara air mataku sudah tidak terbendung lagi.
“Din tolong mengerti. Apakah semua harus di selesaikan dengan cara nangis seperti ini. Santai sajalah.”
“Jangan berkata seperti itu padaku Ndra, itu bukan sifatmu.” Aku making a ngerti, di hadapanku bukan Indra yang kukenal slama ini.
“Kamu ingin tau alasannya Din?” katanya.
“Iya…”
“Karena aku sudah bosan denganmu dan karena aku telah menemukan seorang gadis yang jauh lebih baik darimu. Dia cantik, pintar, mandiri, dan satu lagi dia kaya. Puteri seorang pengusaha terkenal. Dia sangat beda denganmu bukan? Kamu hanya seorang anak pegawai negeri biasa yang tidak bisa di andalkan.
“Pertama mengenalmu aku memang sangat kagum akan kecantikanmu Din….aku fikir memiliki gadis cantik pasti akan sangat menyenangkan. Aku memang pernah mencintaimu Din, tapi itu tlah pudar seiring berjalannya waktu. Aku mulai sadar bahwa kamu tidak pantas menjadi bagian hidupku.”
“Jadi Ndra….keji….kamu jahat. Baik….baiklah, detik ini juga aku kabulkan permintaanmu. Aku tidak akan meminta belas kasihanmu lagi.
………………………………………………………………………
“Knapa Nak?” dari tadi….semenjak membuka pintu Taxi air mata itu tida pernah berhenti mengalir
Si bapak Sopir membuyarkan lamunanku
“Jangan menangis terus. Kalau tidak keberatan ceritakan apa yang terjadi, setidaknya itu dapat meringankan bebanmu. Agar hati dan pikiran akan lebih lega dan lebih ringan. Apa kamu mau slama perjalanan ini Bapak hanya melihat mata bengkak itu.”
Aku tersenyum padanya
Sejenak aku terdiam ….mungkin ada benarnya juga jika kuceritakan pada si Bapak ini apa yang terjadi padaku. Apalagi kalau di lihat-lihat bapak ini baik juga.
“Pacarku Pak, dia pergi dan memutuskan aku hanya karena menemukan seorang gadis kaya yang mampu memenuhi segala kebutuhannya.”
“Oh jadi begitu ceritanya. Sudahlah nak jangan larut dalam kesedihan. Masih banyak hal yang lebih baik yang bisa kamu lakukan. Jangan karena putus cinta kamu menjadi putus asa. Kamu harus bangkit, untuk dirimu sendiri, orang tua, kakak, adik dan tentunya…..” Bapak itu terdiam sejenak.
“Oh iya nak, agamamu apa?”
Oh lala….ada apa dengan bapak ini kok tiba-tiba dari putus cinta tiba-tiba nyambung ke soal agama.
“Islam pak….” Jawabku
“Oh iya pak tadi bapak bilang aku harus bangkit bukan untuk diriku sendiri tapi untuk orang tua, kakak, adik dan siapa lagi ?” lanjutku
“Allah….yang telah memberikan kehidupan bagi kita smua. Dia maha mengetahui. Yakinlah bahwa kisah hari ini akan ada hikmahnya.” Jawabnya sambil berbalik ke arahku dan tersenyum
“Maaf nak kalau bapak lancang. Tapi itu memang benar….” Dia berkata lagi sambil memperbaiki posisi duduknya.
“Terkadang kalau jatuh cinta akal sehatpun tidak ada lagi. Semua hanya didasari oleh standar nafsu saja. Bila putus cinta terkadang ingin mati saja. Cinta dalam Islam itu memang ada tapi jangan pernah diartikan sempit seperti hubunganmu dengan mantan pacarmu. Melainkan cinta kepada Allah, orang tua, keluarga, kakak, adik bisa kamu berikan cinta dan kasih sayang berdasarkan kaidah yang ada dalam agama kita. Insya Allah kita akan menjadi orang yang di muliakan oleh-Nya.”
Sejenak aku terdiam mendengarkan si Bapak. Iya, baru saja ia memberikanku suatu nasihat yang menyentuh hati. Tentang cinta, tentang agamaku….aku benar-benar miskin apalagi tentang keimanan dan ketakwaanku. Oh Tuhan slama ini aku melupakan-Mu. Ampuni aku ya Allah, aku menjerit dalam hati memohon ampun-Nya. Tanpa terasa air mataku menetes lagi. Bukan karena masalahku dengan Indra. Aku menangis karena dosa-dosaku slama ini. Salah satu buktinya slama ini shalatpun tdak pernah kulaksanakan padahal itu adalah kewajibanku.
“Nak..nampaknya kita sudah memasuki jalan Dg. Tata Raya. Tolong tunjukkan, apa sudah dekat atau………..”
……………………………………………………………………
5 TAHUN KEMUDIAN
Suasana di rumah ini benar-benar ramai, sluruh sanak keluarga berkumpul dan nampak bahagia.
“Assalamu Alaikum wr.wb.”
“Waalaikum salam Wr.Wb.” jawab mereka serempak
“Kamu dari mana sich Din?” ibu bertanya dan meminta penjelasan dariku
“Kamu tau sendiri kan nak kalau pak Ustadz dan keluarga dari pihak laki-laki akan datang termasuk Bapak Nak Hadi, calon mertuamu. Mereka akan membicarakan tanggal pernikahan kalian. Ah……….” Ibu mendesah
“Din….Din….sejak kita pindah, ikut Bapak yang pindah tugas nampaknya kamu sangat menikmati suasana di sini. Kamu lebih banyak kegiatan. Apa kamu tidak lelah? Pagi kamu kerja kantoran, pulangnya kamu…..”
“Kemana bu….?” Kataku sambil meliriknya
“Kemana ya? Pokoknya banyak ke pengajian, ke pesantren, ke panti asuhan dan masih banyak lagi. Loh…loh..ibu kok celoteh seperti ini, kembali ke pokok permasalahan. Kamu dari mana Din?” tanyanya lagi
“Ibu….Dina dari acara Pesantern Kilat anak SMU. Ibu tau sendirikan jauh-jauh hari guru mereka meminta agar Dina bisa ikut memberikan beberapa materi kepada mereka. Insya Allah apa yang Dina sampaikan bermanfaat bagi mereka.” Jawabku
“Ibu senang Din, karena kamu benar-benar sudah berubah. Berubah menjadi perempuan yang sholehah. Ibu bangga setidaknya selama 5 tahun ini Dina membuat suatu perubahan yang bermanfaat bagi semua orang. Buktinya nak, alhamdulillah kamu sudah pakai jilbab, rajin shalat, pintar ngaji dan masih muda sudah jadi ustadzah yan hebat.”
“Ah ibu jangan memuji terlalu berlebihan. Itu smua adalah hidayah dari Allah Bu.” Ya ini hidayah dan berkat si Bapak sopir Taxi itu. Sebenarnya aku sangat berharap Tuhan bisa mempertemukan kami lagi agar aku bisa mengucapkan terima kasih padanya.
“Dina…kok diam. Oh iya lepas dari pembicaraan tadi. Ibu jadi ingin tahu apa kamu sudh mengenal pribadi nak Hadi. Siapa tau nantinya kalian akan menemukan banyak perbedaan dan ketidakcocokan yang nantinya akan menimbulkan konflik dalam rumah tangga.”
“Bu….melalui perbedaan itu nantinya kami akan bisa memahami satu sama lain. Bukankah pernikahan itu menyatukan dua hati yang berbeda. Apalagi pak Ustadz sudah mengenalnya dengan baik. Insya Allah…….. Hadi menjadi yang terbaik di mata pak Ustadz, di mata ibu dan keluarga dan di mata Allah. Ditambah lagi Dina telah melakukan shalat…meminta petunjuk dari Allah, Bu..”
“Bu… doakan Dina, smoga bisa menjadi istri yang baik buat Hadi”
“Ibu tidak akan pernah berhenti mendoakanmu nak.” Kata Ibu sambil memelukku.
“Ya sudah….” Setelah melepas pelukannya ibu berkata lagi
“Cepatlah masuk kamar sebentar lagi para tamu akan datang.”
……………………………………………………………………
Sudah sejam aku di dalam kamar ini tapi ibu belum datang memberitahukan tentang keputusan kedua belah pihak keluarga tentang tanggal pernikahanku. Tapi lamunanku buyar saat terdengar ketukan pintu dari luar.
“Din…smuanya sudah diputuskan, 16 September akan menjadi hai bahagiamu nak. Oh iya pak Ustadz dan calon mertuamu akan segera pulang. Temuilah mereka.”
Akhirnya kutemui pak Ustadz dan calon mertuaku untuk pertama kalinya. Saat tiba di ruang keluarga, ketika Pak Ustadz memperkenalkan bapak dari calon suamiku. Tubuhku terasa lemas dan…..tidak mungkin, aku srasa tidak percaya. Apa aku mimpi?
Ya Allah Subhanallah. Maha Suci Engkau ya Allah. Aku bahkan tidak dapat berkata apa-apa lagi, karena orang yang ada dihadapanku. Dia….si bapak yang 5 tahun lalu ada bersamaku dalam Taxi…………………………

Maret 14, 2009 Ditulis oleh ceritapenulis | CERIS | , , , , , | & Komentar

Thank”s Obatnya….I’am Back…

Makasih ya smuanya….setelah mendaki gunung, melewati lembah, naik turun bukit demi mencari pecahan bola empat arwah (hallah…hehehehe…….) aku kembali setelah menyelesaikan smua peperanganku dengan SI MALAS yang beberapa waktu ini menggerogoti hati dan fikiranku.
Kalian tau slama perjalananku aku menemukan berbagai macam obat yang sangat berharga bagiku….obat itu tak lain adalah smangat dari kalian smua.
pokoknya mulai skarang aku kan kembali lagi menata hati yang tersakiti ( halah….kaya” patah hati saja, hehehehe)
Mulai detik ini…..I’am Back…..dengan penuh semangat dan Cinta…..

Maret 14, 2009 Ditulis oleh ceritapenulis | Serba-Serbi Penulis | , , , , , , , | No Comments Yet

Beri aku Obat!!!!

Uhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh……………..
Entah apa yang terjadi, akhir2 ini sesuatu telah merasukiku. Nampaknya sebuah penyakit yang ga bisa dicegah, datangnya tiba-tiba.
Rasanya cuma pengen di kamar aja, sambil tidur2an ga ngerjain apa-apa. Padahal masih banyak cerita yang harus aku buat. Udah ribuan Crita yang berkeliaran diotakku, tapi knapa denganku….ada apa denganku? jari-jari ini sudah malas lagi untuk menari-nari, mata ini slalu memalingkan matanya dari “laptop kucelku”.
Oh ceritaku kau harus menunggu berapa lama lagi ….
Please berikan aku obat untuk mengatasi penyakit malas ini……..
kembalikan semangatku………….
aku ingin bercerita
aku ingin mengeluarkan semuanya dari kepalaku…..
Uhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Uhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Arghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Bantuinnn…Please!!!!!!

Februari 17, 2009 Ditulis oleh ceritapenulis | curhatq | , , , | & Komentar

Thank’s Inuyasha…..Kau beri Riaty & Usna dalam hidupku

Berteman dengan Inuyasha ternyata tidak sia-sia.
Ingin skali mengatakan ini padanya “Inuy makasih ya” (kalo dia tanya untuk apa?) aku akan jawab seperti ini: “Untuk smuanya….tlah menjadi teman dan memberikan aku dua orang perempuan manis yang menjadi sahabat baruku, menjadi saudara, Trima kasih karena memberi Riaty dan Usna padaku…..
Oh ya beberapa hari yang lalu….tiba-tiba Riaty SMS ke aku…hmmm pakai nomor baru lagi (nomor kok gonta-ganti truss)…lama skali kami saling smsan mulai dari crita tentang Usna yang lagi males2nya atau tentang Inuyasha yang seneng banget ngerjain teman2nya lewat sms.
Singkat cerita
Beberapa hari kemudian Riaty tia-tiba nelpon. oh lalalala, sekian lama….untuk pertama kalinya:
“Halo………..assalamu Alaikum….(sambil ketawa-ketiwi..wkwkwkwkkwkwk, heheheheh….)
trus Riaty ngejawab sperti ini:
“Waalaikum salam…Loh kok ketawa, aku tutup ney…..heheheheheh(dia balik ketawa)
“Nggak Ry beda aja…..lagi apa ney? kok rame?” tanyaku
“Lagi ngelesin anak-anak” jawabnya
“Halah….ya ampun Ry….ntar murid2mu marah lagi…..” kataku
“Ya udah ntar dilanjut ya….” katanya mengakhiri.
Pokoknya setelah Riaty telpon….aku seneng banget….Pokoknya kapan2 ngobrol berempat dhech bareng Inuyasha, Riaty, Usna dan aku…hmmm pasti seru tuch

Februari 12, 2009 Ditulis oleh ceritapenulis | curhatq | , , , | & Komentar

Aku, Dia, & My Children’s Sweet (Part VI)

Part VI
Aku…aku pacarnya Nina……kata-kata it uterus saja berkecamuk dalam fikiranku, kenapa Marcell….knapa harus Marcell yang harus menggantikan posisi kak Restu di hati Nina. Di saat aku mulai merasakan hal yang berbeda untuk Marcell.
“Boleh aku Masuk ?” Nina muncul di balik pintu kamarku.
“Iya tentu saja Nin….” Jawabku.
“Aku nggak ganggu kamu kan Sa?” Tanya Nina lagi sambil ikut berbaring di sampingku.
“Nggak memangnya ada apa?” aku balik bertanya.
“Sorry ya Sa soal kejadian barusan.”
“Apa yang harus dimaafkan Nin….? Nggak pa pa kok.
“Sorry, karena kamu harus menyaksikan kejadian yang nggak mengenakkan. Aku jadi malu sama kamu.”
“Nggak apa-apa Nin….”aku berusaha meyakinkan Nina.
“Kamu tau Sa, ada begitu banyak hal yang ingin aku ceritakan sama kamu. Tapi semua itu tidak pernah terjadi. Selama ini tiap kali ada masalah atau aku lagi bahagia aku slalu berharap bisa membaginya dengan kamu. Memang aku akui aku punya banyak teman Luna, Angel tapi tetap saja ada yang kurang, yaitu kamu Sa. Sejak dulu aku berharap aku dan kamu bisa jadi sahabat yang sangat dekat. Aku terkadang iri pada Angel, kalau aku ke rumahnya dia begitu akrab dengan adik-adiknya.Luna pun begitu. Tau nggak Sa….kamu itu aneh, aku tidak pernah ngerti dengan sikap kamu. Aku tau kamu sayang sama keluarga tapi kamu tertutup Sa. Bayak yang tidak aku tau tentang kamu. Mungkin Rachel jauh…jauh lebih tau tentang kamu dari pada aku.” Nina terus bicara.
“Tiap hari Sa, aku selalu berharap kamu akan cerita semuanya, smua yang kamu alami. Tapi itu tidak pernah terjadi. Kamu sibuk dikamar, pergi kuliah, pergi dengan Rachel. Kita memang sering kumpul dan jalan bareng tapi itu hanya sebatas kumpul keluarga. Banyak yang nggak aku tau. Buktinya sore tadi seandainya Marcell nggak ngeliat kamu, mungkin aku nggak akan pernah tau kalau kamu akrab dengan anak-anak itu.” Tuhan…saat ini Nina benar-benar mengungkapkan isi hatinya.
“Maaf Nin, jika slma ini aku membuat kamu kecewa dengan sikapku. Aku sayang sama kamu, kak Dita, Dede dan semuanya. Aku sama dengan kamu Nin…..kamu tau aku slalu merasa kesepian semenjak kepergian orang tuaku. Aku berusaha melewatinya dengan susah payah. Bukannya aku nggak mau cerita Nin, aku Cuma nggak mau membebani semua orang dengan begitu banyak kesedihan yang aku alami.” Tanpa kusadari air beningpun berjatuhan dari pipiku.
Aku bangun dan Ninapun sama sambil duduk di sampingku.
“Sa…jangan pernah sekalipun berfikir kalau kamu itu beban dalam keluarga ini, kamu adik aku, adik kak Dita, adik smua orang dikluarga ini. Smua sayang kamu.” Nina menghapus butiran air mataku.
“Maaf Nin…maaf…aku janji mulai sekarang aku akan berubah……”
Nina tiba-tiba memelukku.
“Ayo…..” Nina tiba-tiba melepas pelukannya dan menarik tanganku.
“Mau kemana?” tanyaku
“Kita ke bawah yuk….Luna dan Angel mungkin sudah pulang…..mereka pergi beli makan malam.”
Sebenarnya aku ingin menanyakan apa yang terjadi antara Nina, kak Restu dan Marcell, tapi….
Tit…tit…..tit….”HPku tiba-tiba berbunyi.
“Kamu duluan Nin, nanti aku nyusul”
“Iya….” Jawab Nina sambil melangkah keluar.
SMS…..ehm..dari mana ya, coba aku lihat. Ah ….rachel, dari Rachel.
Sobat aku belum tau kapan pulang
Tapi yang jelasnya
Aku kangen banget
Selesai membaca SMS dari Rachel akupun keluar dari kamar menuju ke ruang makan. Tapi saat aku menutup pintu kamar dan berbalik seseorang mengagetkanku. Marcell.
“Kamu kaget lagi Sa?” Tanya Marcell padaku
“Iya, habisnya kamu paling sering muncul tiba-tiba.” Jawabku
“Sorry, nggak sengaja. Aku mau manggil kamu makan.”
“Iya, ney aku juga dah mau turun kok.”
Bersama kami menuruni anak tangga satu demi satu. Perasaanku saat ini benar-benar berkecamuk, tidak karuan. Iya……slalu saja begini jika di dekat Marcell. Aku nggak boleh terus-menerus seperti ini. Marcell kan pacarnya Nina.
“SMS dari siapa Sa….?” Nina bertanya padaku saat aku dan Marcell tiba.
“SMS dari Rachel, Nin….. dia belum bisa mastin kapan akan pulang.”
“Kamu pasti kangen banget Sa sama dia.” Kata Angel
“Iya Ngel…abieznya Rachel lama banget di sana.” Kataku sambil duduk di dekat Nina.
“Mari makan…..” ucap Nina pada kami.
“Wah makanannya enak banget, aku memang jago beli makanannya.” Luna memuji diri sendiri.
“Jago apaan….yang milih juga aku…..” Angel membantah perkataan Luna.
“Sa, ngomong-ngomong soal kamu dan anak-anak tadi….kami masih penasaran.” Luna tidak menghiraukan Angel
“Kita makan aja dulu, ntar aku certain.” Jawabku.
………………………………………………..
RUANG KELUARGA 19.15
Aku tidak tau kenapa mereka begitu bersemangat ingin tau tentang My Children’s Sweet. Buktinya aja sekarang mereka sudah duduk manis menunggu cerita dariku.
“Entah aku harus mulai dari mana, ceritanya panjang, dan aku yakin kalian……” aku belum selesai bicara tapi Marcell sudah memotong pembicaraanku.
“Cerita aja Sa…….kalau perlu kamu singkat aja. Jujur aku juga penasaran seperti yang lainnya.” Kata Marcell.
Aku mulai menceritakan smuanya pada mereka mulai dari peristiwa terjebaknya aku di lampu merah sampai dengan peristiwa sore tadi.
“Kamu mengajari mereka Sa….?” Nina mulai bertanya.
“Iya….” Jawabku singkat.
“Di pinggiran jalan Sa….apa nggak panas tuch?” Rachel geleng-geleng kepala, entah apa maksudnya.
“Awalnya memang seperti itu, tapi nggak lama kok. Tanpa kami sadari polisi lalu lintas yang sering tugas di sekitar situ ternyata memperhatikan kegiatan kami. Mungkin karena kasihan atau apalah, akhirnya mereka mengijinkan kami untuk memakai tanah kosong di samping pos mereka untuk belajar, bahkan mereka turut membantu membangun tempat yang sederhana buat kami berteduh.”
“Maksud kamu pos polisi yang dekat perempatan lampu merah itu?” Tanya Nina lagi.
Aku mengangguk membenarkannya.
“Memangnya mereka nggak punya rumah singgah?” Marcell yang tadinya hanya mendengarkan, akhirnya ikut bertanya padaku.
“Dulu sich memang nggak ada, tapi sekarang tempat itu, rumah singgah mereka sebentar lagi selesai. Ada yayasan yang membantu kami. Dan kalau tidak ada halangan 3 atau 4 bulan lagi tempat itu sudah dapat di tempati oleh mereka.” Jawabku.
…………………………………………..
Nampaknya kak Restu benar-benar membuktikan kata-katanya. Pagi ini saja dia ke rumah hanya untuk membawakan setangkai mawar putih kesukaan Nina. Tapi apa yang terjadi, dengan santainya Nina mengambil bunga itu dan membuangnya di depan kak Restu. Lalu dengan santainya Nina dan teman-temannya berlalu untuk jogging di sekitar kompleks.
Tapi nampaknya kak Restu belum putus asa. Buktinya dia masih tetap menunggu Nina. Benar-benar pembuktian cinta. Tapi…..ternyata itu nggak berlangsung lama, karena Marcell tiba-tiba muncul.
……………………………………………..
“Nin……..apa tadi itu nggak kelewatan.” Tanya Angel
“Aku rasa tidak, aku tau betul bagaimana sifat Restu. Dia nggak gampang menyerah frend. Kita liat saja nanti.” Jawab Nina.
………………………………………………
SEMENTARA ITU
“Pagi Cell…” Sapaku
“Pagi juga Sa…..” katanya sambil tersenyum padaku.
Ya Tuhan aku benar-benar nggak tahan dengan senyuman itu.
“Baru bangun Sa?” dia tersenyum lagi ke arahku.
“Iya….kamu kok tau…..”
“Baju kamu….” Katanya sambil menunjuk pakaianku.
“Hehehehe…….sebenarnya tadi aku buru-buru mau menyapa kak Restu..
“Dia sudah pulang Sa…..” kata Restu agi.
Kring…..Kring…..Kring
Aku masuk dulu Cell, siapa tau kak Dita atau Nina yang telpon.
“Halo…pagi…..” sapaku
“Halo…nak Alsa ya? Tadi bapak hubungi HP kamu tapi tidak ada yang angkat.” Suara di seberang sana.
“Iya, HP aku tinggal di kamar tadi, ini Pak Soli ya.”
“Iya nak Alsa.” Jawabnya.
“Ada apa pak?” aku mulai cemas, karena tidak seperti biasa pak Soli menghubungiku.
“Kamu ke rumah sakit Bhayangkara sekarang, Yeyen kecelakaan. Keadaannya kritis.”
“Apa…Yeyen? Kok bisa…” aku tak kuasa menahan air mataku.
“Iya pak, aku segera ke sana.” Lanjutku.
Aku menutup telepon.
“Tidaaaaaaaaaaaaak……………Yeyen …….sayang”
“Ada apa Sa….? Marcell nampak cemas melihatku.
“Antar aku ke rumah sakit sekarang Cell.” Pintaku
“Iya…tapi kenapa?” tanyanya
“Yeyen, my children sweet kecelakaan.” Jawabku.
“Ok, kamu tenang, aku ambil kunci mobil dulu ya.”
……………………………………………….
“Ayo Sa…………” Marcell menarik tanganku.
“Jangan khawatir, Yeyen pasti nggak apa-apa.” Marcell terus menenangkanku.
…………………………………………..
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA
Aku berlari menuju ke Ruang Gawat darurat. Aku tidak tahu ………..aku takut apalagi saat melihat Pak Soli, Orang Tua Yeyen dan My Children’s Sweet menatapku dengan wajah berurai ar mata. Sementara itu Pak Soli hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Tidak………..Tidak…….tidak…………tidak mungkin.” Aku terus saja menangis apalagi saat melihat tubuh kecilnya terbaring tak bernyawa di hadapanku.
“Yeyen….Yeyen…kenapa nggak tunggu kak Alsa?….Yeyen jangan pergi…..lihat …ini kak Alsa…ayo bangun…bangun Yen, kakak nggak suka kalau Yeyen becanda. Yen please…bangun sayang.” Aku terus mengguncang tubuh Yeyen
“Sa….kamu yang tabah.” Marcell mendekapku dalam pelukannya.
“Dia masih kecil Cell, dia bahkan belum menikmati hidup, dia belum menempati rumah singgahnya, dia nggak bisa ngelukis lagi……….”
“Aku tau Sa….tapi kamu harus merelakannya.” Marcell melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku.
“Benar kata temanmu nak Alsa, kita harus rela dan mengikhlaskan Yeyen.” Kata Pak Soli padaku.
“Memangnya apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?” aku bertanya pada pak Soli.
“Bapak juga nggak begitu tau. Tadi pagi bapak tiba-tiba ditelpon oleh Reybo, katanya Yeyen kecelakaan, ketabrak. Bapak cepat-cepat kesana dan kata beberapa saksi, jalanan pagi ini benar-benar sepi. Yeyen dan beberapa temannya sedang bermain di jalanan tanpa memperhatikan sekitarnya. Padahal saat itu ada motr yang melaju kencang.”
“Pelakunya?” Tanyaku lagi
“Sudah menyerahkan diri kepihak kepolisian.”
………………………………………………
PEMAKAMAN YEYEN, PUKUL 15.00
Satu persatu para kerabat, dan teman-teman Yeyen meninggalkan pemakaman, meninggalkan Yeyen sendiri.
“Sa……ayo kita pulang.” Nina memegang bahuku
“Nin……..rasa itu kembali lagi. Kehilangan, kenapa Tuhan selalu merenggut orang yang aku sayang.”
“Sa….kamu pernah janji kan kalau kamu akan selalu merelakan. Aku yakin orang tuamu, Yeyen akan sangat sedih jika melihat keadaan kamu yang seperti ini. Ingat janji kamu pada kak Dita, kak Alif dan semuanya.” Nina memelukku.
“Iya Nin….tapi tolong tinggalkan aku disini, sebentar saja.”
……………………………………………
“Apa Alsa akan baik-baik saja Nin, kalau kita tinggalkan dia sendirian.”
“Jangan khawatir Cell, aku yakin Alsa akan kuat, dia pernah merasakan hal yang jauh lebih buruk dari ini. Kehilangan orang tuanya, kehilangan om dan tante.”
“Nin…..sorry…sebenarnya kamu dan Alsa itu hubungannya seperti apa, aku kira kalian kakak adik. Tapi barusan kamu bilang om dan tante. Oran tua Alsa…..maksudnya apa Nin?” Marcell nampak tidak mengerti.
“Memangnya aku nggak pernah cerita ya Cell, aduh sorry banget. Aku dan Alsa memang saudara, tapi saudara sepupu. Alsa anak tunggal. Bapaknya Alsa adalah kakak dari ibuku, sementara Ibunya Alsa adalah adik dari Bapakku. Jadi apa bedanya, darah yang mengalir dalam tubuh kami sama. Semenjak orang tuanya meninggal Alsa tinggal bersama dengan keluarga kak Dita. Orang tuaku sebenarnya ingin Alsa tinggal dengan mereka tapi karena Bapak yang sering pindah tempat tugas jadi kak Dita memutuskan agar Alsa dan aku tinggal dengan mereka saja. Kamu tau aku sangat sedih jika melihat Alsa rapuh lagi. Tapi aku yakin Alsa akan bangkit……….”
“Dia akan bangkit lagi Nin, Alsa akan keluar dari semua kesedihannya karena Alsa memiliki kamu Nina.” Kata Marcell
“Dan juga memiliki pengagum rahasia seperti kamu Cell. Eits sorry Cell keceplosan, tapi kan Alsanya nggak ada disini.”
“Oh ya Nin, ngomong-ngomong mengenai Restu, aku kasian padanya, nampaknya dia teramat sayang sama kamu.”
“Biarkan saja Cell, biar dia dapat pelajaran. Bayangin aja Cell, dia ada di Manado tapi terus saja meminta orang untuk mengintaiku.”
“Seharusnya kamu senang dong Nin, itu artinya dia sayang sama kamu.”
“Iya, tapi kalau berlebihan nggak ada baiknya. Seharusnya dia percaya padaku, seperti aku yang selalu percaya padanya.”
“Sampai kapan kita akan bohong Nin, kalau sebenarnya kita nggak pacaran.”
“Aku nggak tau Cell, tapi kamu masih pengen ngebantu aku kan?”
“Tentu saja Nin, tapi Alsa…………..”
“Kalau soal Alsa..aku janji akan cerita soal semua ini ke dia tapi cari waktu yang tepat dulu ya. Oh ya Cell kamu benar-benar suka ya ama Alsa?” Tanya Nina lagi.
“Bukan suka lagi Nin, tapi sayang, cinta, aku cinta ama Alsa.” Jawab Marcell.
………………………………………………
“Kamu sudah pulang Sa?” Nina yang bersama dengan Marcell datang menemuiku di kamar.
“Iya………..” aku tersenyum pada mereka.
“Kamu udah baikan Sa…? Tanya Nina
“Iya……..” jawabku singkat.
“Terima kasih…”lanjutku.
“Entah apa yang akan terjadi kalau aku melewati semua ini sendiri. Untung ada kalian.”
“Sa, jangan ngomong gitu, aku dan Nina senang ngebantu kamu.” Marcell angkat bicara.
TING…..TONG…..TENG
“Tunggu bentar ya, aku buka pintu, nampaknya ada orang didepan ………..” Nina meninggalan aku dan Marcell.
“Cell………skali lagi makasih ya………” kataku sesaat setelah Nina pergi.
“Sa, dari tadi kamu ngucapin makasih terus.”
“Nggak tau Cell, aku Cuma pengen aja bilang itu ke kamu.” Aku terdiam sejenak.
“Sebenarnya………..”lanjutku, tapi tiba-tiba
“Sa, lihat siapa yang datang……………..” Nina tiba-tiba muncul diantara kami.
…………………………………………………

Februari 1, 2009 Ditulis oleh ceritapenulis | CeBers | , , , | & Komentar

Aku, Dia, & My Children’s Sweet (Part V)

Part V
Sudah 3 hari kak Dita dan keluarga kecilnya pergi. Tapi aku sudah rindu bukan main. Di rumah masih ada Nina, Angel, Luna dan Marcell tapi keadaannya beda ketika keluarga kak Dita bersamaku. Nina Cs sibuk dengan urusan mereka. Apalagi akhir-akhir ini Nina Cs lebih banyak meluangkan waktu di luar rumah. Entah apa yang mereka lakukan. Kalau aku perhatikan sejak malam itu mereka berempat nampak sangat kompak dan selalu pergi bersama-sama. Marcell bahkan selalu mengantar dan menjemput Nina Cs. Apa keadaan akan seperti ini terus sampai kak Dita pulang? Aku kesepian…….nggak ada kegiatan sama sekali. Apalagi sekarang lagi musim libur semester. Seandainya Rachel ada di sini , keadaan pasti beda banget. Rachel kamu kapan pulangnya sich?
Ya Tuhan……..tolong aku. Aku mesti kemana?
Oh iya……..knapa bisa lupa ya…….Au tau sekarang kemana aku mesti pergi. Sudah hamper satu bulan aku nggak kesana padahal apa yang harus kuberikan telah aku dapatkan. Kok aku bisa linglung seperti ini ya? Padahal selain kampus, rumah Rachel, toko buku tempat itulah yang paling sering aku kunjungi. Setidaknya 3-4 x dalam sebulan aku sllu kesana. My Children Sweet………..aku datang. Aku yakin mereka akan menghilangkan rasa sepiku.
Olen, Ochi, raybo, Yeyen, Alan……….Bagaimana kabar mereka? Terakhir ketemu, kalau tidak salah aku tugaskan mereka untuk membaca buku yang aku bagikan. Aku sangat bersemangat………kuambil setumpuk buku yang telah aku beli ditempat kak Sinta, smuanya untuk MY CHILDREN’S SWEET.
CHILDREN’S SWEET………hmmmmmmmm aku kembali mengingat-ingat awal pertemuan kami, ya sekitar 2 tahun lalu di peempatan lampu merah. Saat itu macet banget dan suasananya ngeBTin banget. Tapi saat itu tiba-tiba segerombolan anak datang dan bernyanyi di balik kaca mobilku. Mulanya aku cueqin aja mereka tapi lama kelamaan aku merasa terhibr, akhirnya kuturunkan kaca mobil dan menyapa mereka. Mereka begitu poos dan masih kecil tapi harus menghadapi rintanganhidup yang begitu sulit. Tapi aku bisa liat ekspresi mereka tetap saja senang dan bahagia. Seharusnya mereka duduk dan belajar di bangku sekolah. Saat lampu merah berganti hijau aku membagikan selembar uang 5 ribuan kepada tiap anak. Wah….saat itu mereka sangat senang. An semenjak hari itu aku sering kesana untuk menyapa dan mengajak mereka ngobrol. Apalagi saat aku tau anak-anak itu tidak sempat menyelesaikan sekolah hanya karena keterbatasan ekonomi. Kuputuskan untuk sesering mungkin kesana untuk mengajari atau membagikan buku-buku sekolah atau bacaan untuk mereka. Aku juga membagikan buku tulis, buku gambar, pensil dll untuk mereka. Kami bahkan punya tempat belajar khusus. Ya……..semua itu berkat bantuan para polisi lalu lintas yang bertugas di tempat anak-anak itu mencari nafkah. Mereka mengijinkan kami untuk memakai tanah kosong di dekat pos mereka, bahkan saking baiknya para polisi itu mereka mendirikan gubuk-gubuk kecil untuk kami. Setiap hari kamis dan sabtu di minggu pertama dan ketiga anak-anak tlah siap untuk menungguku. Karena mereka tau saat itulah aku akan datang menemui mereka. Dan semenjak saat itu pulalah aku memanggil mereka dengan sebutan MY CHILDEN’S SWEET.
Tapi hari ini hari senin, aku yakin mereka akan sangat kaget dengan kedatanganku. Saat aku tiba di pos polisi yang aku dapati hanyalah pak Solid an tig polisi lainnya, nampaknya mereka tidak begitu sibuk. Mungkin karena sudah sore. Tapi mesti begitu ada juga beberapa masyarakat yang lagi sibuk mengurus sesuatu. Entah apa?
“Sore Pak Soli……….” Aku menyapanya
“Sore, eh nak Alsa…….ayo masuk, tumben ke sini inikan hari senin, ada perlu apa” sudah kuduga, pak Soli pun heran aku datang di hari senin.
“Nggak ada apa-apa kok pak, lagi bosan aja di rumah nggak ada kegiatan apalagi sekarag lagi musim libur semester.”
“Oh begitu rupanya. Alsa, kamu sudah ketemu anak-anak?”
“Belum pak…..saya baru mau meemui mereka.”
“Seperti biasa Alsa, lihat!” kata ak Soli lagi sambil menunjuk anak-anak yang ada di perempatan jalan tak jauh dari tempat kami.
“Baik pak….Alsa kesana dulu.” Akupun meninggalkan pak Soli dan menuju ketempat my children’s sweet.
“Ochi………..Raybo……..tman-teman…lihat itukan kak Alsa.” Olen tiba-tiba berteriak saat melihatku.
“Sore my Children’s sweet…” aku menyapa mereka sambil duduk di tengah-tengah mereka dipinggiran jalan kota.
“Kakak kok kesini?” Olen tiba-tiba bertanya padaku.
“Memangnya kakak nggak boleh kesini ya?” aku pura-pura sebel.
“Boleh kok kak, tapi kan nggak seperti biasa, iya kan teman-teman?” lanjut Olen
“Iya…………” jawab teman-temannya kompak.
“hehehehe, kakak kesini karena kangen kalian. Oh iya kalian dapat berapa hari ini?” tanyaku pada mereka.
“Seharian melap mobil aku baru dapat 3750 rupiah kak.” Jawab yeyen sambil menunjukkan uangnya padaku.
“Aku dapat 6.000 rupiah kak, ini dari hasil jual tissue yang diberikan ibu kemarin untuk di jual.” Kata Ochi sambil menunjukkan uangnya.
“Kalau kamu Rey….?” Aku bertanya pada Reybo yang duduk di sampingku.
“5.500 rupiah kak dari hasil jual air minum kemasan.” Jawabnya.
“Olen…Alan…jualan korannya dapat berapa sayang?”
“Korannya baru terjual 8 lembar kak.” Jawab si Kembar kompak.
“Ya sudah nggak apa-apa yang penting kalian dapat uangnya dengan cara yang halal. Kakak bangga sama kalian. Ini hasil jerih payah kalian. Ini jauh lebih baik dari pada kalian ngemis di pinggir jalan mengharap belas kasihan orang lain. Ngomong-ngomong kalian masih sempat belajar kan? Masih membaca buku-buku yang kakak bagikan.”
“Masih kak, sebelum tidur dan sebelum berangkat kami sempatkan untuk membaca dan belajar seperti anjuran kak Alsa.” Olen mewakili teman-temanya menjawab pertanyaanku.
“Kak…kak…kak…….” Tiba-tiba Reybo angkat bicara.
“Kemarin kami dari rumahnya Pak Soli…” lanjutnya lagi.
“Ngapain?” tanyaku singkat.
“Kok nggak ngajak-ngajak kak Alsa?” lanjutku.
“Makan…” jawab mereka kompak.
“Pak Soli bawa mobil trus ngajakin kita semua makan di rumahnya trus setelah itu Pak Soli mengantar kami kembali, tapi sebelum itu istrinya Pak Soli ngasi uang 10.000 buat kita smua, baik ya?” Reybo nampak bahagia.
Aku tersenyum pada mereka, Pak Soli benar-benar baik. Dialah yang selalu membantu kami. Polisi yang hebat. Dia juga sangat sayang kepada anak-anak ini.
“Yeyen, bapak kamu bagaimana sayang?” Aku bertanya pada yeyen yang sedari tadi diam..
Bapaknya Yeyen 2 minggu yang lalu sakit dan tidak bisa menarik becak seperti biasanya.
“Sudah sehat kak, ini berkat uang yang kakak titip sama Pak Soli.” Jawabnya
“Maaf ya sayang saat itu kakak lagi sibuk-sibuknya di kampus.”
“Nggak apa-apa kak, malahan kami sangat berterima kasih. Uang yang kakak beri kami pakai untuk berobatnya bapak di rumah sakit apalagi ada juga bantuan dari Pak Soli. Saat ini bapak udah sehat dan kembali narik becak.
“Baguslah kalau begitu. Oh iya Yen….kamu masih melukis kan?” tanyaku sambil mengalihkan pembicaraan.
“Iya kak…” jawabnya
“Kamu tau, suatu hari nanti kakak pengen memamerkan lukisan kamu ke semua orang. Jadi kalau peralatan lukisnya sudah habis bilang ke kakak ya, jangan sungkan. Nanti kakak belikan lagi.”
“Baiklah My Children’s kakak bawa sesuatu untuk kalian.” Setumpuk buku aku keluarkan dari dalam tas, dan dapat aku lihat kehausan dari mata mereka, mereka nampak tidak sabar untuk meminum dan melahap semua isinya.
“Beberapa hari yang lalu kakak dari toko buku dan membeli semua ini untuk kalian. Seperti biasa kakak bagikan satu persatu sisanya akan kakak simpan di tempat kita. Ingat kalau sudah selesai dibaca kalian tukaran dengan yang telah dibaca oleh teman kalian. Trus kalau sudah selesai simpan dan jaga baik-baik di Tempatnya supaya yang lain bisa baca juga, siapa tau Pak Solid an yang lain juga berminat.”
“Terima kasih kak Alsa.” Kata mereka serempak sambil memelukku erat.
“Sama-sama ……….” Jawabku sambil melepaskan pelukan mereka.
“Hei lihat lampu merah mulai menyala, adik-adik ayo cepetan kakak tunggu di sini saja. Cepetan jalannya lagi macet tuch. Ochi cepetan tawarin tissuenya sayang, yeyen banyak mobil yang kotor tuch, ayo lap sambil nyanyi juga bagus. Rey…kamu tawarin minum ke pengendara motor.” Kataku sambil menyuruh mereka.
“Kak Alsa……” tiba-tiba Yeyen memanggilku.
“Ada apa?” tanyaku.
“Ada yang memanggil kakak di sini.” Jawabnya sambil melambaikan tangan.
Aku melangkah dan mendekati Yeyen. Memangnya siapa yang memanggilku.
“Alsa………….” Tiba-tiba serentak suara mengagetkanku dari balik kaca mobil.
Ya Tuhan, inikan mobilnya Marcell.
“Ya ampun kalin bikin kaget aja.” Kataku
“Sa ngapain kamu di sini?….truss kamu bawa mobil?.” Tanya Nina padaku.
“Nggak…tadi aku naik taxi, aku memang sering ke sini Nin.” Jawabku.
“Kalau gitu kamu ikut kami pulang aja.” Lanjut Nina lagi padaku.
“Iya…..” jawabku singkat.
“Yen….bilang ama yang lain dan Pak Soli, kakak pulang dulu. Beberapa hari lagi Insya Allah kakak akan menemui kalian lagi.” Kataku sambil pamit pada Yeyen.
Saat aku membuka pintu mobil tiba-tiba…..
“Hore…hore…..hore….”Yeyen meloncat kegirangan dan dapat kulihat selembar uang 10.000 ada di tangannya, dan aku tau itu adaah pemberian dari Marcell dan aku hanya bisa tersenyum saat dia melihat ke arahku.
………………………………………
“Kamu sering kesini Sa?” Angel nampak sangat penasaran…..dan nggak percaya.
“Iya, kalau lagi nggak kuliah atau kalau tidak ada kegiatan aku sempatkan untuk menemui mereka.”
“Nampaknya kamu dan anak-anak itu sangat akrab, sudah berapa lama Sa kamu kenal mereka?” Lunapun angkat bicara.
“Kira-kira 2 tahun Lun….” Jawabku.
“Jadi slama 2 tahun kamu slalu ke sana Sa?”Nina yang duduk di depan, dekat Marcell menoleh padaku.
“Aku bahkan nggak tau kalau kamu kenal mereka. Tiap hari aku lewat jalan ini. Memperhatikan mereka saja nggak pernah terfikirkan. Kalau bukan Marcell yang ngeliat kamu mngkin slamanya aku nggak akan tau tentang smua ini.” Lanjut Nina.
Lagi…lagi Marcell, aku nggak tau atau hanya perasaanku saja. Beberapa hari ini aku merasa kehidupanku slalu saja diisi dengan kehadirannya, entah itu sengaja atau tidak tapi aku merasakannya. Merasakan sesuatu. Entah apa itu, rasa grogi, takut bahkan bahagia saat dia dekat, bicara atau bahkan melihatku.
………………………………………………….
Baru saja kami turun dari mobil tapi sudah terjadi ketegangan yang aku nggak tau penyebabnya apa. Yang jelasnya saat kami tiba, aku dapat menangkap ekspresi wajah Nina saat melihat sebuah mobil warna merah parkir di depan rumah. Ya……mungkin Cuma Marcell yang nggak tau…itu kan mobilnya kak Restu. Akhirnya kak Restu pulang. Entah apa yang akan terjadi.
“Kamu kemana aja Nin? Tau nggak aku nunggu kamu hampir dua jam disini. HP kamupun nggak bisa aku hubungi.” Kak Restu nampak marah.
“Aku mau kemana itu urusan aku Res, nggak ada hubungannya dengan kamu. Kamu nggak berhak menanyakan apapun, karena kamu bukan lagi seseorang yang berarti. Kita udah bubaran, putus….kamu tau itu.” Nina pun mulai membalas kemarahan kak Restu.
“Tapi kamu nggak bisa memutuskan secara sepihak, terus terang aku nggak terima keputusan kamu itu.” Suasana makin memanas.
“Terserah…..asal kamu tau aja, aku sudah melupakanmu. Aku bahkan sudah dapatkan pengganti kamu di kehidupanku.”
Ha……maksud Nina apa, fikirku
“Penggantiku, memangnya siapa, aku ingin tau seperti apa lelaki itu yang dengan mudah bisa membuatmu melupakanku. Jangan bohong Nin……tidak semudah itu kamu melupakan dan mencari penggantiku.” Kak Restu nampak tidak percaya.
“Aku….aku….aku pacarnya Nina….”
Ya Tuhan suara itu…….
“Aku…..dan anda tidak berhak untuk memarahi atau membentak-bentak Nina di hadapanku.” Oh Tuhan rasanya aku mau pingsan mendengarnya.
Pantas saja beberapa hari ini mereka sering bersama dan keluar bareng. Ternyata Nina dan Marcell pacaran.
“Aku akan buktikan Nin, bahwa kamu tidak mencintai laki-laki ini. Bahwa dia hanya pelarian saja. Asal kamu tau, aku masih sayang sama kamu. Dan aku bersumpah kamu akan kembali padaku.” Kata kak Restu sambil berlalu meninggalkan kami.

Januari 30, 2009 Ditulis oleh ceritapenulis | CeBers | , , , , | No Comments Yet

Aku, Dia, & My Children’s Sweet (Part IV)

Part IV
”Halo Lun…kamu kesini ya, kak Dita pengen bicara.”
“Memangnya ada apa sich Nin, tumben kak Dita pengen ngomong serius ama aku.”
“Entahlah…. Aku aja nggak tau Lun.”
“Skarang ya Nin….?”
“Lusa…….ya iyalah skarang Lun……!”
“Ok Boss….aq segera datang.”
……………………………
“Apa?……. Palembang …..?” aku dan Nina hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kak Dita.
“Memangnya kakak ada perlu apa kesana?” lanjutku tidak mengerti.
“Lalu apa hubungannya antara Palembang dengan kakak memanggil aku kesini.” Luna pun angkat bicara.
“Satu persatu dong sayang. Palembang…….di Palembang akan diadakan acara Reuni SMU kami. Dan seperti yang kalian ketahui kami…kak Dita, kak Mila, Kak Alif dan kak Ridho adalah alumninya. Besok pagi kami akan berangkat kesana.” Kak Dita menjelaskan maksud kepergiannya.
“Berapa lama kak?” Tanya Nina.
“Kami belum tau berapa lama disana , karena kebetulan Dhede lagi libur sekolah jadi skalian jenguk kak Mila dan kak Ridho.” Gantian kak Alif yang menjelaskan
“Kakak berdua tega amat sich. Aku dan Alsa juga pengen ikut.” Nina protes yang diikuti anggukan kepala dariku.
“Iya kami kan juga pengen nemuin smua kluarga di Palembang.” Lanjut Nina lagi.
“Iya kakak tau kalian pengen banget ikut tapi ingat kalo tidak salah bulan lalu kalian baru pulang dai sana. Jadi gantian dong sayang.” Kata kak Dita sambil mengedipkan matanya.
“Luna……” kak Dita mendekat ke Luna.
“Seperti yang kamu dengar tadi kami sekeluarga akan berangkat ke Palembang besok, jadi kakak harap kamu mau menemani Nina dan Alsa disini, kakak ngerasa nggak tenang ninggalin mereka berdua di rumah ini.”
“Aduh kak….gimana ya? Aku sich mau tapi Marcell gimana dong. Soalnya dia juga lagi liburan di kota ini dan nggak enak ninggalin dia dirumah, memang sich ada orang tua aku dan kakak-kakakku tapi trus terang di rumah Marcell sangat dekat denganku. Apalagi aku dah janji kalo slama dia disini aku yang bakal nemenin. Jadi…….” Luna belum sempat melanjutkan perkataannya tapi kak Dita sudah memotongnya.
“Kalau Marcell nya mau dan bisa dipercaya, kamu bisa ngajak dia kesini. Setidaknya kakak lebih tenang lagi karena ada laki-laki yang bisa menjaga dan melindungi kalian. Oh ya Nin kamu ajak Angel juga ya.” Kata kak Dita pada Nina.
“Oh ya Sa, kamu bisa ajak Rachel juga.” Lanjut kak Dita padaku.
“Rachelnya lagi nggak disini kak, dia ke Bandung jenguk neneknya yang lagi sakit. Aku sendiri nggak tau dia kapan pulangnya. Kak ……. Teman-teman Nina kan teman-teman aku juga. Jadi kakak nggak nggak usah khawatir.”
“Ya sudah terserah kamu Sa, kak Dita dan kak Alif jadi tenang sekarang.”
“Oh ya Lun……..sebelum kakak pergi tolong bicarakan dulu dengan Marcell, kalau dia bersedia tolong bertahu kakak, kakak ingin bicara dengannya.”
“Rebes kak Dita……” kata Luna mengangkat 2 jari tangannya.
“Beres ………Lun…..” Nina membetulkan perkataan Luna.
“Iya beres, memangnya aku bilang apa? Tanya Luna.
“Rebessssss………” jawab kami kompak.
…………………………………
KEESOKAN HARINYA
“Ok adik-adik kami berangkat ya. Ingat jaga diri kalian baik-baik dan jaga kepercayaan kakak. Terutama kamu Marcell, kamu harus menjaga gadis-gadis cantik ini sampai kami pulang. Kakak percaya sama kamu.” Kak Dita memeluk Marcell.
“Iya……kak Dita nggak usah khawatir, aku akan jaga mereka.” Kata Marcell.
……………………………..
“Sa, rencana kamu hari ini apa?” Tanya Nina sesaat setelah kak Dita, kak Alif dan Dhede pergi.
“Aku mau ke toko buku. Kamu Nin…….?” Aku balik bertanya.
“Aku, Angel dan Luna hari ini ada kuliah, mungkin selesainya malam.
“Kamu udah mau berangkat sekarang Sa…?” Tanya Angel padaku.
“Belum ini baru jam 11 siang kan, skitar dua jam lagi. Kalau kalian berangkatnya jam berapa?” aku balik bertanya.
“Bentar lagi Sa, sekarang aja kami mau siap-siap.” Jawab Nina.
“Ok Sa … kami keatas ya ….” Lanjut Nina.
“Ok…” jawabku sambil memandangi ke tiga sahabat itu berlalu dari hadapanku.
“Kamu mau cari buku apa.” Marcell bertanya padaku
Aku kok bisa lupa kalau saat ini aku hanya berdua dengan Marcell.
“Belum tau sich….ya….yang penting enak dibaca aja.” Jawabku.
“Oh, begitu ya…..”
Baru bebrapa menit aku mengobrol dengan Marcell, tapi tiba-tiba rombongan ke tiba sahabat tlah ada diantara kami.
“Kami berangkat sekarang Cell, takutnya nanti terlambat sampai ke kampus.” Kata Luna pada Marcell.
“Ini Cell…” Nina memberikan sesuatu pada Marcell.
“Ini …?” Marcell nampak keheranan.
“Kunci rumah, untuk kamu slama berada dirumah ini. Anggap seperti rumah sendiri. Kita semua memiliki kesibukan, jadi mungkin sibuk dengan urusan masing-masing. Jadi gunakan kunci itu untuk keluar dan masuk rumah ini sesukamu.” Nina menjaab pertanyaan Marcell.
“ Thank’s ya Nin…….” Kata Marcell lagi.
“Sama-sama……” jawab Nina lagi.
“Lun…kalian mau diantar. Aku ambil kunci mobil dulu, tadi aku tinggal di kamar.” Marell bersiap-siap menuju kamar yang telah disediakan untuknya.
“Nggak usah Cell, kami naik Taxi aja.” Kata Luna pada Marcell.
“Oh ya Cell nanti malam ada sesuatu yang ingin kami bicarakan dengan kamu.” Kata Nina.pada Marcell.
……………………………………….

“Aku kekamar dulu ya Sa………”kata Marcell saat Nina, Luna dan Angel berangkat kekampus.
“Iya……..” jawabku singkat
Sesaat setelah Marcell pergi, aku memilih menuju ke dapur. Iya sebagai tuan rumah kan harus siapin makan siang. Apalagi sekarang ada Marcell, kan tidak enak kalau sudah waktunya makan siang tapi makanan sama sekali tidak ada.
“Ehmmmmmmmm…………harum skali, pasti rasanya enak?”
“Apa….?” Aku berbalik dan tidak kusangka ternyata Marcell sudah berada tepat dibelakangku
“Kamu lagi masak Sa…?”
“Iya Cell, kalo kak Dita pergi biasanya aku dan Nina gantian untuk masak di rumah. Liat kondisinya saja. Kalau aku tidak kuliah dan Nina kuliah artinya harus aku yang siapain makan atau sebaliknya. Tapi kalau sama-sama sibuk paling makan di kampus atau diluar saja.”
“Rumah sebesar ini kenapa tidak ada pembantunya?” Marcell bertanya padaku.
“ Karena kak Dita masih sanggup kok untuk ngerjain semuanya. Tapi tau nggak aku tuch paling salut sama kak Dita, dia sanggup nyelesein smua pekerjaan rumah sendiri. Dan aku kadang kasian litany kalau aku dan Nina lagi sibuk-sibuknya. Tapi kakak nggak pernah mengeluh katanya sich itulah nikmatnya jadi istri dan ibu rumah tangga. Skalian olah raga katanya. Pokoknya kak Alif tuch beruntung banget punya kak Dita….”
“Kak Dita juga beruntung banget punya adik seperti kamu dan Nina.”
Aku hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan Marcell.
“Ayo makan Cell, makanannya udah siap Nich.” Ajakku.
“ ok….aku rasanya nggak sabaran pengen nyoba masakan kamu.”
Kenapa aku baru menyadarinya, Ya Tuhan aku lagi berhadapan dan duduk berdua makan siang dengan seorang cowok yang mungkin menjadi idola para perempuan seusiaku, tampan, mata yang teduh dan menenangkan dan……..
“Kalau aku ikut kamu ke took buku boleh nggak Sa?”
“Apa?” aku jadi salah tingkah.
“Kamu….kamu mau ikut………?” lanjutku lagi.
“Kalau nggak boleh nggak apa-apa kok.” Kata Marcell.
“Boleh kok, kamu boleh ikut.”
………………………………….
“Bagaimana kamu sudah siap?” Tanya Marcell saat aku muncul dihadapannya.
“Iya, kita berangkat sekarang Cell………”
“Ok…….” Marcell membukakan pintu mobilnya untukku.
“Sa kamu sering ke took buku ya, truz kamu suka jenis buku apa?” Tanya Marcell saat kami tlah berada diperjalanan.
“Iya Cell aku sering banget ke took buku, dan mengenai jenisnya aku sich gak terlalu milih yang penting menarik. Oh ya Cell, kalau tidak salah Luna pernah bilang katanya kamu lagi libur kuliah, memangnya di Jakarta lagi musim libur kuliah ya?” aku aja baru persiapan untuk UTS.”
“Nggak, sebenarnya aku lagi cuti kuliah sejak semester lalu. Beberapa tahun terakhir ini aku merasa sangat sibuk, melelahkan……otak juga perlu di refresh. Mungkin semester depan aku mulai masuk kuliah lagi.” Kata Marcell padaku.
Saat itu aku tidak dapat berkata apa-apa lagi, begitu juga dengannya. Kami lebih banyak diam. Entah apa yang ada dalam fikiranya. Tapi semuanya berubah saat kami telah sampai ditempat tujuan.
“Selamat siang manis gula………” Awi seorang pegawai toko buku yang sedikit gemulai yang bertugas di tempat penitipan barang menyapaku.
“Siang juga pare pahit…..” kataku sambil menyerahkan tas bawaanku.
“Ehm…….bawa pacar nich Sa………Akhirnya kamu punya pacar juga. Brondong lagi……..brownis, kenalin ama pare pahit dong.” Pinta kak Awi padaku sambil ngelirik Marcell tiada hentinya.
“Iiiiih kakak, bukan……….ini Marcell, teman Alsa kok. Oh ya kak aku kok nggak ngeliat kak Sinta, dimana ya? Aku cari dulu ya……….”, kataku sambil mengajak Marcell dan meninggalkan kak Awi
“Sorry ya Cell, kak Awi memang gitu orangnya, suka genit……….” Lanjutku
“Nggak apa-apa kok Sa……..” dia tersenyum padaku.
“Alsaaaaaaaaaaaaaaaaaa………..” kak Awi…….uh kebiasaan teriak-teriak, bikin kaget aja.
“Sinta nggak ada Sa, tapi buku yang kamu cari udah dia titip ke aku.” Ternyata kak Awi sudah berada di sampingku.
“Kok bisa? Memangnya kak Sinta kemana kak? Tanyaku.
“Sinta nitipnya kemarin Sa. Sinta lagi ada urusan keluarga di Surabaya. mendadak, katanya kalau kamu datang tinggal ambil dan bayar di kusir, eh salah di kasir.” Kak Awi cengengesan
“Oh gitu ya.” Kataku pada kak Awi.
Aku, Marcell dan kak Awi melangkah ke tempat dimana kak Awi menyimpan buku-buku yang dititip oleh kak Sinta untukku. Setelah membayar dan mengambil tasku di tempat penitipan barang, akhirnya aku dan Marcell pulang, balik ke rumah.
………………………………………………..
Jam 08.00 malam
Nampaknya Nina, Angel dan Luna sudah pulang, itu terbukti setelah mereka masuk dan langsung merebahkan diri di tempat tidurku.
“Sa……kamu liat Marcell?” nina bertanya padaku.
“Mungkin ada di kamarnya. Tadi setelah dari toko buku dan abies makan malam Marcell langsung masuk ke kamarnya dan aku nggak pernah ngeliat dia setelah itu.” Jawabku pada Nina.
“Kamu ke kamarnya aja Nin………! Ajak dia bicara.” Kata Luna dan perkataanya membuatku tidak mengerti.
“Tapi temani aku ya Lun, nggak enak kalo aku yang bicara.” Jawab Nina, dan aku makin tidak mengerti.
“Ok aku temani, tapi bagaimana dengan Angel.” Kata Luna
“Tenang frend aku nunggu kalian di kamar kita aja. Aku tinggal nunggu hasilnya.” Jawab Angel.
Akhirnya ke tiga sahabat itu meninggalkan kamarku dengan sejuta tanda Tanya yang ada di dalam hati “ ada urusan apa mereka ingin bertemu Marcell ?”………….

Januari 28, 2009 Ditulis oleh ceritapenulis | CeBers | , , | No Comments Yet

Aku, Dia, & My Children’s Sweet (Part III)

Part III
15 April……..15 April…..15 April. Aku benci kenapa harus ada 15April. 15 April membuatku tidak ingin membuka mata, menyongsong pagi, menghadapi siang dan kegelapan malam. Aku hanya ingin berdiam diri dikamar. Apa yang harus aku lakukan. Kesedihan terus saja melanda hidupku di 15 April. 5 tahun tlah berlalu …….tapi sama sekali tidak ada perubahan. Aku tidak bias lupa semua kejadian kelam itu.
“Sayang……buka pintunya, kamu belum makan dari tadi pagi. Tau nggak kakak sudah siapin masakan kesukaan kamu, trus tadi kak Mila sngaja nelpon untuk nanyain keadaan kamu. Ayo kenapa kamu ngga jawab.” Suara kak Dita terus saja terdengar dari balik pintu kamarku.
“Sudahlah ma, mungkin Alsa butuh ketenangan sperti tahun-tahun sebelumnya.” Suara kak Alifpun terdengar.
“Kak……” kataku pelan sambil membuka pintu kamar.
“Sayang…….” Kak Dita memelukku erat
“Hari ini……….” Kataku lagi
“Nggak usah ngomongin itu, kakak udah tau” Kak Dita makin memelukku erat.
“Aku rindu kak, kangen…..kangen banget ama ayah dan Bunda. Tiap tahun, disini…..didadaku semuanya menjadi satu, campur aduk. Aku nggak tahan lagi. Terlalu berat. Kenapa mereka harus ninggalin aku secepat ini, disaat aku masih butuh dukungan dan perhatian mereka.”
“Sa….sudah…….jangan fikirkan hal itu lagi. Smuanya sudah berlalu saying. Biarkan mereka istirahat dengan tenang. Kamu ekarang bukan Alsa yang 5 tahun lalu lagi. Ayo bangkit dari semua keterpurukanmu. Lihat smua ada disini dan sayang sama kamu. Kakak mau Alsa yang dewasa yang slalu bahagia.” Kak Dita melepaskan pelukannya.
“Kak…….knapa aku ngak bisa trima, ayah dan bunda pergi saat aku masih 14 tahun, masa dmana aku masih sangat butuh mereka. Dalam sekejap smua kebahagiaan kami hilang. Andai saat itu kami nggak ke Bali, mungkin nggak akan terjadi. Kecelakaan pesawat maut itu tidak akan terjadi.
“Mereka emang sudah pergi untuk slamanya Sa, tapi mereka akn slalu ada di hati kamu. Kakak yakin rang tuamu akan sangat sedih jika tau kamu sperti ini. Apa kehangatan keluarga yang kakak beri nggak cukup bagi kamu, kamu memang adik spupun kakak…..tapi slama ini tidak pernah ada yang membedakan kasih saying kami untuk kamu dan Nina, begitupun kak Mila, kak Alif dan kak Ridho….Dhede juga sangat sayang padamu. Fikirkan itu sayang.” Mungkin kamu butuh sendiri, kami tinggal ya.”
Aku masih ingat hari itu….Ayah,Ibu dan aku akan berlibur ke Bali. Kami sangat bahagia, apalagi liburan itu untuk merayakan keberhasilan aku meraih pringkat 1 disekolah. Tapi kebahagiaan itu sangt singkat karena dalam sekejap saat perjalan pulang pesawat yang kami tumpangi mengalami kecelakaan. Semua terenggut dalam sekejap. Kecelakaan itu merebut smuanya, ayah……..ibu……..dan kebahagian kami.
Butuh waktu lama untuk mengobati smuanya, untuk menerima kenyataan pahit. Aku merasa sendiri……..benar-benar sendiri. Untuk apa smuanya, warisan…harta benda kalau mereka nggak ada disisiku. Tapi untunglah saat itu ada kak Dita, kak Mila, Nina dan Paman & Bibi. Paman adalah adik kandung Ibu, sedangkan Bibi adalah adik kandung Ayah.
Kak Dita ingin agar aku tinggal bersama mereka dan Nina. Karena saat itu sangat sulit untuk tinggal bersama paman dan bibi. Pekerjaan Paman adalah Duta Besar membuatnya harus tinggal di luar negeri.
Smua menyayangiku…….benar kata kak Dita aku harus bangkit dari keterpurukan dan kesedihan yang berlarut-larut ini. Aku tidak boleh mengecewakan kak Dita, kak Mila, Nina, dan smuanya.
Mulai hari ini aku janji pada diriku sendiri dan melupakan smuanya. Skarang aku akan keluar dari kesedihan ini dan menyampaikan ke kak Dita dan sluruh dunia bahwa aku tlah bangkit kembali.
Alsa mesti semangat. Semangat………….

Januari 16, 2009 Ditulis oleh ceritapenulis | CeBers | , , | & Komentar